Humas & Sinergi – Ujian skripsi diadakan sebagai syarat kelulusan mahasiswa maka dari itu pada pandemi sekarang ini mau tidak mau sidang skripsi harus tetap di laksanakan. Seperti halnya Kampus IKIP PGRI Bojonegoro melaksanakan sidang skripsi secara daring yang di mulai pada hari Senin 26 Juli 2021.

Ali Mujahidin selaku wakil rektor 1 sekaligus penanggung jawab di bidang akademik dan kerja sama mengungkapkan salah satu profil lulusan IKIP adalah sebagai peneliti di bidang masing-masing dan pada sidang skripsi inilah para mahasiswa di uji atas apa yang telah mereka kerjakan.

“Diperkuliahan mereka mendapatkan teori dan pada saat inilah mereka praktik dalam penelitian tersebut hingga mencapai titik puncak ujian skripsi”, ungkap Ali Mujahidin wakil rektor 1 sekaligus penanggung jawab.

Ujian skripsi 2021 ini dilaksanakan secara daring sesuai dengan program pemerintah dalam pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dan ini baru pertama kali IKIP melaksanakan Sidang Skripsi secara daring.

“Untuk mendukung program pemerintah dalam melaksanakan PPKM jadi sidang skripsi di laksanakan secara daring, sehingga dosen menguji dari rumah dan mahasiswa diuji dari rumah tidak ada aktifitas berkerumun”, jelas Ali Mujahidin saat di hubungi tim UKM Jurnalistik Sinergi.

Ali Mujahidin menambahkan bahwa dalam hal ini masih efektif luring (tatap muka). Namun mau tidak mau harus di laksanakan secara daring dan tentunya pasti ada kendala hanya saja jaringan mahasiswa dan itu bisa diatasi oleh panitia dan tim IT yg memfasilitasi dalam insfrastruktur jaringan.

“jadi kita sudah persiapkan berbagai macam estimasi kendala dan solusinya, dan itu sudah kita sampaikan kepada tim IT sebelum pelaksanaan ujian. Alhamdulillah sampai saat ini ujian berjalan dengan lancar dan sudah sesuai SOP yg telah disusun”, imbuhnya.

Budi Suriyanto mahasiswa semester akhir dari fakultas pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Prodi Ekonomi mengungkapkan bahwa awalnya dia gugup namun waktu sidang berlangsung ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya.

“Awalnya saya gugup dan ternyata tidak seperti yang saya kira. Berkat saya bersungguh-sungguh memahami apa yang sudah saya kerjakan akhirnya saya mampu menjawab semua pertanyaan yang di berikan oleh dosen penguji”, tandas Budi mahasiswa asal Kedungadem.

Sedangkan Isna Choirun Nisa’ Azzahro’ mahasiswi semester akhir dari fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Prodi Matematika juga mengungkapkan bahwa sidang skripsi di laksanakan secara daring menggunakan aplikasi zoom dengan waktu 45 menit namun ia berhasil menjawab dan menyelesaikan dalam kurun waktu kurang dari 30 menit.

“Awalnya saya canggung namun ketika sidang di mulai saya berusaha tenang dan alhamdulillah saya mampu melewatinya dengan lancar dengan waktu kurang dari 30 menit sudah selesai”, tutur Isna mahasiswi asal Temayang.

Perasaan senang pasti yang di rasakan seluruh mahasiswa mahasiswi yang usai melaksanakan sidang skripsi. Begitu juga yang diarasakan oleh Isna, haru bercampur pilu karena sudah melewati proses demi proses selama ini hingga ia bisa meraih gelar S.Pd.

“Sebaik-baiknya skripsi adalah skripsi yang selesai dan alhamdulillah saya mampu melewati gerbang demi gerbang demi meraih gelar S.Pd seneng banget plong rasanya dari perjuangan akhirnya sudah usai”, tambahnya. (Sev)